Ade Rai
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada satu hal yang tak pernah berubah dari sosok I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai selama lebih dari 25 tahun terakhir: wajah. Jika Anda membandingkan parasnya ketika masih menjadi raja arena binaraga pada era 1990-an, hingga kini saat menjadi pemilik belasan pusat kebugaran, ia seolah tak pernah beranjak tua.

Memang ada beberapa kerutan di sudut mata pria yang kini menginjak usia 46 tahun itu. Tapi selebihnya nyaris sama.

Ade Rai, demikian ia dikenal, hanya tersenyum kecil ketika mendengar pertanyaan CNNIndonesia.com soal alasan fisiknya seolah kebal pada goresan waktu. Ia menilainya sebagai suatu kewajaran dan konsekuensi prinsip hidup sehat yang memang ia pegang erat-erat.

Sebagai penggelut dunia olahraga yang pernah mencicipi dunia bulutangkis, panco, dan kemudian binaraga, Ade Rai memang tak pernah dan tak mungkin lepas dari pola makan sehat dan olahraga teratur. Dalam beberapa kesempatan ketika CNNIndonesia.com berbincang dengannya pada pekan lalu, apapun pertanyaannya, Ade kerap kembali pada jawaban yang sama, soal dedikasinya pada hidup sehat.

Ade menyebutnya sebagai suatu yang alamiah. Ia tak merasa bahwa mengerem nafsu untuk makan dan minum sesuka hati adalah suatu pengorbanan. Ade mengibaratkan tubuhnya sebagai rumah yang harus dibangun dengan material terbaik. Ia juga meyakini pola hidup sehat sesungguhnya bukan pilihan, atau tujuan, sebagaimana “gosok gigi setiap hari bukan kebiasaan yang bisa ditinggalkan.”

Sehat di matanya adalah syarat yang harus dimiliki untuk  menikmati perjalanan hidup.

“Saya tak memandang hidup sehat sebagai suatu hal yang mahal,” kata Ade Rai soal prinsipnya itu. “Sehat itu justru jadi lebih irit. Siapa saja bisa punya sehat.”

“Sehat itu terlihat tidak menarik ketika kita masih memilikinya, kita baru menginginkan sehat ketika sudah tidak ada. Padahal aktivitas paling mahal justru untuk membeli sehat.”

Ade Rai (kanan) pernah merebut medali emas SEA Games, Mr. Asia, dan juga menjuarai Mr. Musclemania World Professional. (REUTERS/Supri)


Lahir di Dunia Binagara

Dedikasi Ade Rai pada hidup sehat itu membawanya jadi salah satu atlet Indonesia paling populer di dunia pada era 1990-an. Ia merebut status Mr. Asia dan Mr. ASEAN, tujuh kali juara nasional, merebut medali emas SEA Games, serta menjuarai ajang tertinggi binaraga seperti Superbody World Professional serta Musclemania World Professional. Padahal di masa muda ia adalah pemuda kurus yang akrab dijuluki Si Cungkring.

Semua itu ia lakukan nyaris seorang diri. Tanpa personal trainer atau guru. Ade akan mempelajari nutrisi yang harus ia konsumsi, mengolah otot, hingga memilih musik ketika tampil di panggung penilaian ajang binaraga.

Ia mempelajari semuanya secara otodidak – mengandalkan buku dan majalah di setiap kesempatan, ketika akses informasi tak semudah didapatkan dari internet seperti saat ini.

Pada 1994, Ade Rai pernah terbang ke Amerika Serikat untuk menemui temannya bernama Anton Sutopo di Washington DC. Ia menggunakan uang Rp5 juta yang ia dapatkan dari bonus merebut medali perak di Pekan Olahraga Nasional, untuk mencari ilmu di negeri Paman Sam.

“Di sana saya belajar, dari buku-buku. Kadang saya pergi ke perpustakaan, kadang ke toko buku, tapi bukan untuk membeli dan hanya dicatat. Pulang-pulang ke Indonesia, berat saya turun 12 kilo gram,” tutur Ade soal pengalamannya itu.

“Tapi saya dapat ilmu dari sana.”

Ade Rai kini memiliki pusat kebugaran Rai Fitness dan aktif mempromosikan gaya hidup sehat. (CNN Indonesia/Andry Novelino)


Namun jika ada satu hal yang patut diacungi jempol dari seluruh prestasinya itu adalah dedikasi Ade untuk merebut prestasi dari cara yang ‘halal’ atau tanpa obat-obatan pendongkrak performa seperti steroid. Ya, dunia binaraga memang terkenal sebagai salah satu cabang olahraga yang penuh trik-trik penggunaan zat tertentu untuk mendapatkan hasil secara cepat.

Bahkan binaraga sendiri secara terbuka membagi dua kompetisi, yaitu “natural” atau sama sekali tidak menggunakan obat-obatan, dan kompetisi regular. Saking parahnya stigma pada dunia binaraga, Dewan Olimpiade Dunia (IOC) baru meresmikan Federasi Internasional Binaraga pada 1998 silam, atau hanya dua tahun sebelum Ade pensiun.

Ade bukan tak tahu hal itu, baik saat berkompetisi di dalam negeri maupun luar negeri. Ia bahkan menyebut 75 persen atlet binaraga di Indonesia terlibat dalam cara-cara instan seperti itu.

Hanya saja, Ade memilih hidup jadi seorang natural bodybuilder dan juga mengikuti kompetisi yang benar-benar bebas obat.

“Ketika saya menjalankan olahraga ini sebagai seorang natural bodybuilders, itu lebih kepada panggilan hati. Saya beranggapan maskulinitas seharusnya bergandengan dengan vitalitas dan kesehatan. Kalau badan berotot itu harusnya asosiasinya positif, asosiasinya sehat. Kuat.”

“Bukan kebalikannya, nanti bukan menjadi artis, tapi malah jadi tukang racik obat mencari cara badan jadi besar. Menjadi natural bukan sesuatu yang kita pilih, tapi menjadi. Kita lakukan secara apa adanya saja, bukan dipaksakan.”

Sebelum terjun di binaraga, Ade Rai pernah menjadi atlet bulutangkis dan panco. (AFP PHOTO / KEMAL JUFRI)


Bukan berarti Ade tutup mata begitu saja atas rapor merah dunia binaraga. Nada suaranya meningkat dan kalimat-kalimat meluncur dengan ritme lebih cepat ketika kami membicarakan betapa tersistematisnya doping di dunia binaraga dan kebugaran Indonesia.

 Tapi Ade tak mau dibikin frustrasi atau menyalahkan mereka yang menggunakan jalan pintas. Baginya, jalan hidup sehat yang ia pilih membuatnya kaya dan nyaman.

“Masalah orang lain melakukan apa pada dirinya sendiri dan pada lingkungannya. Saya pikir itu masalah sendiri. Bukan masalah saya. Kalau mereka mau belajar ya silahkan, kalau tidak juga tidak masalah.”

"Tidak ada orang kaya yang ngotot kepada orang miskin betapa nikmatnya punya uang. Tidak ada orang kaya akan kesehatan yang ngotot untuk mengajak orang untuk sehat,” ucapnya.

Sebelum terjun ke dunia binaraga, Ade Rai tak memiliki badan kekar dan sering dipanggil dengan julukan Si Cungkring. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)


Membuat Orang Lain Jadi Nyaman

Lepas dari dunia binaraga profesional pada tahun 2000, Ade Rai selama 15 tahun terakhir masih bersahabat dengan pola hidup sehat. Ia masih berolahraga lima hingga 15 kali seminggu dan tetap menjaga asupan makanan.

Hanya saja tujuannya kini berbeda. Jika dulu ia mencari kejayaan untuk dirinya sendiri, ia saat ingin membangun industri binaraga. Ade juga ingin mengajak masyarakat Indonesia mengalami yang ia rasakan saat ini, nyaman dengan tubuh yang sehat.

“Saya selalu beranggapan, saya senang bisa menciptakan kenyamanan pada tubuh saya, kenapa tidak membagikan hal itu agar orang lain juga nyaman dengan tubuh mereka,” ucapnya.

“Sebagai ABG, atau Anak Baru mau Gocap, ternyata bisa ketika di umur 50 tahun itu punya badan yang secara biologis seperti 25 tahun. Kenapa ilmu ini tidak kita bagikan?”

Keinginan itu, serta kecemasan melihat angka harapan hidup orang Indonesia yang berkisar di usia 55-56 tahun, membuat Ade kini mengisi aktivitasnya dengan berbagai kegiatan membagikan ilmu pola hidup sehat.

“Bahaya terbesar bukan ketika tidak mencapai cita-cita yang tinggi, tapi ketika kita hanya memiliki cita-cita yang rendah. Cita-cita masyarakat di Indonesia untuk sehat itu sangat rendah terlihat dari angka harapan hidup di 55-56 tahun.”

“Kecerdasan akan keuangan kita demikian tinggi, kenapa tidak dengan kecerdasan kesehatan kita?” katanya.

Post A Comment: